Irigasi curah

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.Latar Belakang

Pemanfaatan teknologi alat mesin pertanian(alsintan) khususnya sprinkler untuk tanaman sayuran harus dipertimbangan secara cermat agar mampu berkembang secara mandiri. Pada metoda irigasi curah, air irigasi diberikan dengan cara menyemprotkan air ke udara dan menjatuhkannya di sekitar tanaman seperti hujan. Penyemprotan dibuat dengan mengalirkan air bertekanan melalui orifice kecil atau nozzle. Tekanan biasanya didapatkan dengan pemompaan. Untuk mendapatkan penyebaran air yang seragam diperlukan pemilihan ukuran nozzle, tekanan operasional, spasing sprinkler dan laju infiltrasi tanah yang sesuai. Cara yang paling sederhana yang sering digunakan untuk irigasi sayuran oleh petanikecil adalah dengan menyiram menggunakan emrat (ebor).

Alsintan merupakan rekayasa teknologi yang penggunaannya akan berdampak positif terhadap peningkatan produktifitas dan produksi pertanian, peningkatan mutu dan pengolahan hasil, penyelamatan kehilangan hasil saat panen, penyerapan tenaga kerja sekaligus peningkatan efisiensi usahatani. Pemanfaatan teknologi alat mesin pertanian khususnya penggunaan peralatan sprinkler untuk tanaman sayuran di tingkat petani harus dipertimbangan secara cermat agar mampu berkembang secara mandiri.

 

1.2.Tujuan

  1. Mengetahui fungsi dari irigasi curah.
  2. Mengetahui manfaat dan efisiensi dari irigasi curah.
  3. Mengetahui aplikasi irigasi curah.

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

Sistem irigasi bertekanan atau irigasi curah (sprinkler) adalah salah satu metode irigasi dimana pemberian air dilakukan dengan menyemprotkan air ke udara kemudian jatuh ke permukaan tanah seperti air hujan (Schwab, et.all,1981).

Pemberian air secara curah atau irigasi bertekanan dilakukan dengan pipa-pipa yang dipasang atau ditanam dengan bertekanan tertentu diperkirakan pancaran air dapat membasahi seluruh tanah dan tanaman di lahan. Penggunaan sistem ini untuk pengairan dengan efisiensi tinggi serta diterapkan pada lahan pertanian yang bergelombang dan harus diperhatikan mengenai biaya yang cukup tinggi, keahlian yang tepat dalam merancang penempatan unit di lahan dan kemungkinan kecepatan angin yang berubah-ubah (Kartosapoetradan M.Sutejo , 1994).

Sistem irigasi bertekanan/curah dikerjakan secara mekanis dengan menggunakan kompresor bertekanan untuk menekan air melalui pipa-pipa yang dipasang di ladang atau kebun yang akan diairi . Berdasarkan tipe pencurah maka dapat dibedakan atas : springkler dengan nozel, sprinkler dengan pipa perporasi dan sprinkler dengan pencurah berputar (Hartono, 1983).

Untuk menghitung jumlah pencurah (sprinkler) yang digunakan untuk setiap pompa dan setiap satuan luas berbedabeda tergantung dari debit sprinkler, jangkauan air (jari-jari lingkaran berkas air yang disemprotkan) dan debit pompa , sedangkan jarak maksimun antar pencurah berkisar 3/2 kali jari-jari siraman air dan jarak maksimun antar pipa lateral berkisar 8/5 kali jari-jari siraman air (Najiyati dan Danarti, 1996).

Tujuan dari irigasi curah adalah agar air dapat diberikan secara merata dan efisien pada areal pertanaman dengan jumlah dan kecepatan yang sama atau kurang dari laju infiltrasi air ke dalam tanah (kapasitas infiltrasi). Kebutuhan kapasitas irigasi bertekanan tergantung pada luas areal irigasi, jumlah dan kedalaman air irigasi, efisiensi permukaan air dan lama operasi irigasi. Besarnya kapasitas system irigasi ini dapat dihitung berdasarkan

persamaan :

Q = A x d x 10

 

 

         F x H

 

 

Keterangan :

Q = kapasitas debit sistem(m3.jam-1.hari-1)

A = luas daerah irigasi (ha)

d = kedalaman air (mm)

F = selang waktu irigasi (hari)

H = lama operasi irigasi (jam)

 

Efisiensi pemberian air sistem irigasi bertekanan adalah rasio antara jumlah air tanah yang tersedia dengan jumlah air yang diberikan pada setiap kombinasi jarak nozel selama satu periode irigasi (Israelsen dan Hansen, 1961)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

 

3.1   Kesesuaian irigasi curah

Irigasi curah dapat digunakan untuk hampir semua tanaman kecuali padi dan yute, pada hampir semua jenis tanah. Akan tetapi tidak cocok untuk tanah bertekstur liat halus, dimana laju infiltrasi kurang dari 4 mm per jam dan atau kecepatan angin lebih besar dari 13 km/jam.

3.2. Keuntungan irigasi curah

Beberapa keuntungan irigasi curah antara lain:

a. Efisiensi pemakaian air cukup tinggi

b. Dapat digunakan untuk lahan dengan topografi bergelombang dan kedalaman

tanah (solum) yang dangkal, tanpa diperlukan perataan lahan (land grading).

c. Cocok untuk tanah berpasir di mana laju infiltrasi biasanya cukup tinggi.

d. Aliran permukaan dapat dihindari sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya

erosi.

e. Pemupukan terlarut, herbisida dan fungisida dapat dilakukan bersama-sama

dengan air irigasi.

f. Biaya tenaga kerja untuk operasi biasanya lebih kecil daripada irigasi permukaan

g. Dengan tidak diperlukannya saluran terbuka, maka tidak banyak lahan yang tidak

dapat ditanami

h. Tidak mengganggu operasi alat dan mesin pertanian.

 

3.3. Faktor-faktor pembatas

Berbagai faktor pembatas penggunaan irigasi curah adalah:

a. Kecepatan dan arah angin berpengaruh terhadap pola penyebaran air

b. Air irigasi harus cukup bersih bebas dari pasir dan kotoran lainnya

c. Investasi awal cukup tinggi

d. Diperlukan tenaga penggerak di mana tekanan air berkisar antara 0,5 – 10 kg/cm2.

 

 

3.4. Sistem irigasi curah

Berdasarkan penyusunan alat penyemprot, irigasi curah dapat dibedakan :

a. Sistem berputar (rotating head system). Terdiri dari satu atau dua buah nozzle

miring yang berputar dengan sumbu vertikal akibat adanya gerakan memukul dari

alat pemukul (hammer blade). Sprinkler ini umumnya disambung dengan suatu pipa

peninggi (riser) berdiameter 25 mm yang disambungkan dengan pipa lateral. Alat

pemukul sprinkler bergerak karena adanya gaya impulse dari aliran jet semprotan

air, kemudian berbalik kembali karena adanya regangan pegas. (Gambar 3).

b. Sistem pipa berlubang (perforated pipe system). Terdiri dari pipa berlubang-lubang,

biasanya dirancang untuk tekanan rendah antara 0,5 -2,5 kg/cm2, sehingga sumber

tekanan cukup diperoleh dari tangki air yang ditempatkan pada ketinggian tertentu

(Gambar 4). Semprotan dapat meliput selebar 6 – 15 meter. Cocok untuk tanaman

yang tingginya tidak lebih dari 40 – 60 cm.

 

Gambar 3. Kepala sprinkler berputar dan sistem sprinkler berputar

 

Gambar 4. Pipa perforasi untukirigasi bibit kelapa sawit di PT Makin, Jambi

 

 

3.5 Sistim Sprinkler Konvensional

Sistim sprinkler yang paling awal dirancang adalah sprinkler putar kecil yang beroperasi simultan, mulai populer tahun 1930-an dan masih digunakan sampai sekarang. Sprinkler jenis ini bekerja dengan tekanan rendah sampai medium (2 ~ 4 bar) dan mampu mengairi suatu areal lahan lebar 9 ~ 24 m dan panjang sampai 300 m untuk setiap settingnya (0,3 ~ 0,7 ha). Laju aplikasi bervariasi dari 5 ~ 35 mm/jam.

 

3.6 Sistim Berpindah (portable system)

  1. Sistim berpindah manual

Sistim berpindah yang sangat sederhana adalah memindahkannya dengan tenaga manusia secara manual. Sistim ini terdiri dari sebuah pompa, pipa utama, lateral dan sprinkler putar. Lateral tetap di suatu posisi sampai irigasi selesai. Pompa dihentikan dan lateral dilepaskan dari pipa utama dan dipindahkan ke posisi lateral berikutnya. Bila irigasi satu blok lahan telah selesai, keseluruhan sistim (lateral, pipa utama dan pompa) dipindahkan ke blok lahan lainnya.

  1. Sistim Berpindah dengan Mesin

Laeral-move atau roll-move system. Pada sistem ini, pipa lateral selain untuk mengalirkan air digunakan juga sebagai poros roda berdiameter 1,5 ~ 2,0 m. Roda ditempatkan pada jarak 9 ~ 12 m sehingga lateral dapat mudah didorong dari satu setting irigasi ke setting lainnya dengan menggunakan tenaga gerak motor bakar (internal combustion engine).

 

 

Pada waktu irigasi, lateral tetap pada satu lokasi sampai sejumlah air irigasi selesai diaplikasikan. Pompa dihentikan dan pipa lateral dilepas dari pipa utama, airnya dibuang, kemudian posisi lateral dipindahkan dengan tenaga penggerak. Lateral disambung kembali dengan pipa utama di posisi berikutnya.

Sistim ini cocok digunakan di lahan datar, luas, berbentuk segi empat dengan tanaman rendah dalam barisan. Lateral dipasang melintang barisan tanaman sehingga roda penggerak ditempatkan di antara baris tanaman.

 

3.7 Komponen irigasi curah

Umumnya komponen irigasi curah terdiri dari: (a) pompa dengan tenaga penggerak

sebagai sumber tekanan, (b) pipa utama, (c) pipa lateral, (d) pipa peninggi (riser), dan

(e) kepala sprinkler (sprinkler head).

 

Gambar 18 Komponen sistem irigasi curah dengan tenaga motor bakar

  1. 1.      Tenaga penggerak

Sumber tenaga penggerak pompa dapat berupa motor listrik atau motor bakar (internal combustion engine).

  1. 2.      Pipa utama

Pipa utama (main line) adalah pipa yang mengalirkan air dari pompa ke pipa lateral. Pipa utama dapat dibuat permanen di atas atau di bawah permukaan tanah, dapat pula berpindah (portable) dari satu lahan ke lahan yang lain. Pipa beton tidak cocok untuk tekanan tinggi. Untuk pipa utama yang berpindah, pipa biasanya terbuat dari almunium yang ringan dan dilengkapi dengan quick coupling (Gambar 19). Sedangkan untuk pipa utama yang ditanam, umumnya dipasang pada kedalaman 0,75 m di bawah permukaan tanah. Pipa utama berdiameter antara 75 – 200 mm.

 

      

Gambar 19. Pipa almunium dengan quick coupling

  1. 3.      Pipa lateral

Pipa lateral adalah pipa yang mengalirkan air dari pipa utama ke sprinkler. Pipa utama biasanya terbuat dari baja, beton, asbestos cement, PVC atau pipa fleksibel. Pipa lateral ini berdiameter lebih kecil dari pipa utama, umumnya lateral berdiameter 50 – 125 mm, dapat bersifat permanen atau berpindah. Pipa lateral biasanya tersedia di pasaran dengan ukuran panjang 5, 6 atau 12 meter setiap potongnya. Setiap potongan pipa dilengkapi dengan quick coupling untuk mempermudah dan mempercepat proses menyambung dan melepas pipa (Gambar 20) .

 

Gambar 20. (a) Pipa fleksibel, (b) Pipa kaku berpindah dengan sambungan pipa cepat

(quick coupler), (c) pipa sambungan permanen.

4        Kepala sprinkler (sprinkler head)

Terdapat dua tipe kepala sprinkler untuk mendapatkan semprotan yang baik yaitu:

a. Kepala sprinkler berputar (Rotating head sprinkler). Kepala sprinkler berputar

mempunyai satu atau dua nozzle dengan berbagai ukuran tergantung pada debit

dan diameter lingkaran basah yang diinginkan (Gambar 21).

b. Pipa dengan lubang-lubang sepanjang atas dan sampingnya (sprayline) (Gambar 22)

 

Gambar 21. Kepala sprinkler berputar

 

Gambar 22. Sprayline

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PUNUTUP

 

4.1. Kesimpulan

  1. Keuntungan irigasi sprinkler antara lain dapat digunakan pada areal yang tidak rata, hasil cukup merata dan kurang menimbulkan erosi, dapat digunakan pada tanah yang banyak mengandung pasir tanpa banyak kehilangan air akibat perkolasi yang dalam, jumlah air yang diberikan mudah diatur dan dirasionalisasikan pemakaiannya, dapat diotomatisasi.  Kerugian yang  utama adalah biaya yang tinggi pada awal pemasangannya.
  2. Umumnya komponen irigasi curah terdiri dari pompa dengan tenaga penggerak

sebagai sumber tekanan, pipa utama, pipa lateral,  pipa peninggi (riser), dan

        kepala sprinkler (sprinkler head).

  1. Kelemahan dari irigasi curah diantaranya adalah biaya dalam pembelian alat dan aplikasi yang rumit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Hartono, 1983. Penggunaan Irigasi di Lahan Kering. CV. Yasaguna, Jakarta.

Israelsen, O.W., and V .E. Habsen, 1961. Irrigation Principle and Practices. John Wiley & Sons, Inc. New York.

Kartosapoetra dan M.Sutejo, 1994. Teknologi Pengairan Pertanian Irigasi. Bumi Aksara, Jakarta.

Najiyati dan Danarti, 1996. Petunjuk Mengairi dan Menyiram Tanaman. Penebar Swadaya, Jakarta.

Schwab G.O., R.K. Frevert, K.K Barnet, and T.W Edminster, 1981. Elementary Soil and Water Engineering, John Wiley & Sons.Iowa.

Kurnia, U. 2004. Prospek Pengairan Pertanian Tanaman Semusim Lahan  Kering. J.Litbang Pertanian 23 (4) 2004. p130-138

M.S Djunaedi, dan T.Vadari. 2001 Efisiensi penggunaan air embung dengan irigasi tetes untuk mengantisipasi kekerigan air pada lahan kering di musim kemarau. Prosiding Kongres dan Seminar KNIICID. Bogor 16-17 November 2000.

 

 

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s