laporan fisiologi lanjutan

MAKALAH

NUTRISI MINERAL

 

 

 

DISUSUN OLEH :

  1. EKO RAHWANTO                 201110200311007
  2. ABDUL QODIR ZAELANI    201110200311027
  3. FIRNANDES TAURES M      201110200311035
  4. MOH MISBAHUL ARIFIN    201110200311009

JURUSANAGRONOMI

FAKULTAS PEFRTANIAN PETERNAKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2012

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan rahmat serta hidayahnya. Sehingga kami dapat menyusun makalah presentasi pada mata kuliah Fisiologi Lanjutan sebagai tugas tambahan dalam menyelesaikan proses pembelajaran mata kuliah tersebut.

Ucapan terima kasih kami haturkan kepada semua pihak yang sudah membantu proses penyelesaian makalah ini, dan kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Karena itu kritik dan saran dari pembaca sangat kami tunggu. Semoga makalah presentasi ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.

 

 

 

 

 

 

 

Malang, 08 maret 2013

Penulis

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Setiap organisme merupakan suatu sistem terbuka yang berhubungan dengan lingkungannya melalui pertukaran energi dan materi secara terus menerus.Didalam aliran enrgi dan siklus yang mempertahankn ekosistem agar tetap hidup, Tumbuhan dan autotrof-autotrof  fotosintetik lainnya melakukan tahapan pokok yaitu mentransfermasi senyawa anorganik menjadi senyawa organik. Namun demikian autotrofik tidak berarti otonom.

Tumbuhan memerlukan cahaya matahari sebagai sumber energi untuk melakukan fotosintesis. Namun untuk mensintesis bahan organik, tumbuhan juga memerlukan bahan mentah dalam bentu bahan-bahan anorganik seperti karbondioksida, air dan berbagai mineral yang ada sebagai ion anorganik dalam tanah. Melalui sistem akar dan sistem tunas yang saling menjalin suatu tumbuhan memiliki jaringan kerja yang sangat ekstensif dengan lingkungannya, tanah dan udara yang merupakan nutrien anorganik tumbuhan tersebut.

 

B.  Rumusan Masalah

a.    Jelaskan nutrisi pada tumbuhan ?

b.    Sebutkan nutrisi yang diperlukan tumbuhan ?

c.    Apa saja peranan unsure mineral pada tumbuhan ?

d.   Jelaskan cara penyerapan dan pemindahan zat terlarut?

e.    Bagaimana cara penyerapan garam mineral oleh perakaran tumbuhan?

f.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi angkutan mineral?

 

C.  Tujuan

Mahasiswa mampu memahami :

a.    Nutrisi pada tumbuhan

b.    Nutrisi yang diperlukan tumbuhan

c.    Peranan unsur mineral dalam tumbuhan

d.   Penyerapan dan pemindahan zat terlarut

e.    Penyerapan garam mineral oleh perakaran tumbuhan

f.     Faktor-faktor yang mempengaruhi angkutan mineral

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Nutrisi Pada Tumbuhan

Tumbuhan memerlukan kombinasi yang tepat dari berbagai nutrisi untuk tumbuh, berkembang, dan bereproduksi. Ketika tumbuhan mengalami malnutrisi, tumbuhan menunjukkan gejala-gejala tidak sehat. Nutrisi yang terlalu sedikit atau yang terlalu banyak dapat menimbulkan masalah.

 

B.     Nutrisi yang diperlukan tumbuhan

1.      Makronutrien.

Makronutrien adalah elemen-elemen yang dibutuhkan tumbuhan dalam jumlah banyak, yaitu nitrogen, kalsium, potasium, sulfur, magnesium, dan fosfor.

2.      Mikronutrien

Mikronutrien adalah elemen-elemen yang dibutuhkan tumbuhan dalam jumlah sedikit, seperti besi, boron, mangan, seng, tembaga, klor, dan molybdenum. Baik makro dan mikronutrien diperoleh akar tumbuhan melalui tanah.

Akar tumbuhan memerlukan kondisi tertentu untuk dapat mengambil nutrisi-nutrisi tersebut dari dalam tanah. Pertama, tanah harus lembap sehingga nutrien dapat diambil dan ditransport oleh akar. Kedua, pH tanah harus berada dalam rentang dimana nutrien dapat dilepaskan dari molekul tanah. Ketiga, suhu tanah harus berada dalam rentang dimana pengambilan nutrien oleh akar dapat terjadi. Suhu, pH, dan kelembapan optimum untuk tiap spesies tumbuhan berbeda. Hal ini menyebabkan nutrien tidak dapat dipergunakan oleh tumbuhan meskipun nutrien tersebut tersedia di dalam tanah.

 

Pertumbuhan tanaman tidak hanya dikontrol oleh faktor dalam (internal), tetapi juga ditentukan oleh faktor luar (eksternal). Salah satu faktor eksternal tersebut adalah unsur hara esensial. Unsur hara esensial adalah unsur-unsur yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman. Apabila unsur tersebut tidak tersedia bagi tanaman, maka tanaman akan menunjukkan gejala kekurangan unsur tersebut dan pertumbuhan tanaman akan terhambat. Berdasarkan jumlah yang diperlukan kita mengenal adanya unsur hara makro dan unsur hara mikro.

 

C.    Peranan unsur mineral dalam tumbuhan

Unsur-unsur mineral yang dibutuhkan tumbuhan dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu unsur makro dan unsur mikro. Jenis dan peranan unsur-unsur tersebut dapat dilihat dalam tabel di bawah ini :

 

1.      Unsur hara makro yang dibutuhkan oleh tumbuhan

Unsur

Bentuk yang tersedia bagi tumbuhan

Fungsi utama

Karbon (C)

 

Oksigen (O)

 

Hidrogen (H)

 

Nitrogen (N)

 

Kalium (K)

 

Kalsium (Ca)

 

Fosfor (P)

Belerang (S)

Magnesium (Mg)

CO2

CO2

H2O

NO3

K+

Ca2+

H2PO4-

SO4-

Mg2+

Komponen utama senyawa organik tumbuhan.

Komponen utama senyawa organik tumbuhan.

Komponen utama senyawa organik tumbuhan.

Penyusun asam amino, protein, asam nukleat.

Penagktif enzim, pengendali potensial tekanan osmosis.

Struktur dan permeabelitas sel, struktur lamela tengah.

Komponen ATP, asam nukleat.

Penyusun protein tertentu.

Penyusun klorofil, kofaktor berbagai enzim.

 

 

 

 

 

 

2.      Unsur hara mikro yang dibutuhkan oleh tumbuhan

Unsur

Bentuk yang tersedia bagi tumbuhan

Fungsi Utama

Besi (Fe)

Boron (B)

 

Mangan (Mn)

Seng (Zn)

Tembaga (Cu)

 

Molidebnum (Mo)

Klor (Cl)

 

Nikel (Ni)

Fe3+

H2BO3

Mn2+

Zu2+

Cu2+

MOO42-

Cl2+

Ni2+

Sistem oksidasi sitokrom (SPE).

Tidak tentu, kemungkinan untuk translokasi gula menembus selaput sel.

Kofaktor enzim arginase.

Kofaktor enzim karbonat anhidrase.

Berhubungan dengan  sistem oksidasi tertentu, dan reduksi nitrat menjadi amonia.

Untuk reduksi nitrat.

 

Untuk reaksi fotosintesis yang menghasilkan oksigen.

Kofaktor enzim yang berfungsi dalam metabolisme.

 

 

D.    Penyerapan dan pemindahan zat terlarut

Zat – zat terlarut dapat bergerak dengan difusi melalui saluran yang terdapat pada perintang fisik atau masuk bersama aliran pelarut. Zat – zat terlarut bergerak melintasi membran melalui proses lain yaitu pinositosis.

1.      Penyerapan pasif

Penyerapan pasif merupakan proses penyerapan non metabolik. Angkutan pasif dapat terjadi melalui aliran masa, sebagian dari mineral-mineral yang diserap oleh tumbuhan berasal dari hasil penyerapan secara pasif.

 

 

 

 

 

 

2.      Penyerapan dan Angkutan Aktif

Pengangkutan ion dengan bantuan energi metabolik disebut angkutan pasif. Sumber energi untuk keperluan angkutan berasal dari ATP, yang dapat dihasilkan pada proses fotosintesis maupun respirasi. Beberapa kemungkinan angkutan aktif yang terjadi didalam tumbuhan adalah:

v   Pompa sitokrom, yang berperan sebagai pembawa anion.

v   Mekanisme lain, tidak semua membran mengandung enzim angkutan elektro yang sebagian besar terdapat pada mitokondria dan kloroplas, sedangkan pada membran lainnya, seperti tonoplas dan plasmalema tidak dijumpai.

 

E.     Penyerapan garam mineral oleh perakaran tumbuhan

Garam mineral yang paling mudah tersedia bagi akar adalah yang larut dalam larutan tanah, sekalipun konsentrasinya  biasanya rendah. Hara ini mencapai akar melalui tiga cara : difusi melalui larutan tanah, dibawa secara pasif dalam aliran massa menuju akar, dan akar yang tumbuh mendekati unsur tersebut. Garam mineral dapat diserap dan diangkut ke atas dari daerah akar yang berambut dan juga dari daerah yang lebih tua yang letaknya beberapa senti meter dari ujung akar.

 

F.     Faktor-faktor yang mempengaruhi pengangkutan mineral

Ada faktor yang dapat mempengaruhi pengangkutan/penyerpan mineral baik secara pasif maupun aktif pada tumbuhan.

1.      Suhu

Peningkatan suhu akan meningkatkan kemampuan penyerapan sampai batas suhu tertentu, dan setelah itu akan menurun. Peningkatan suhu juga dapat meningkatkan respirasi, yang secara tidak langsung dapat meningkatkan produksi energy yang sangat diperlkukan dalam angkutan aktif. Dilain pihak, suhu tinggi dapat menimbulkan denaturasi protein enzim, sehingga secara tidak langsung akan mempengaruhi penyerapan/angkutan mineral.

 

 

 

2.      Konsentrasi ion H+ (pH)

Perolehan lingkungan dari lingkungan tanaman sangat dipengaruhi oleh konsentrasi ion H+ ditempat mineral tersebut berada. Secara umum tumbuhan lebih mudah menyerap mineral dari lingkungannya jika berada pada pH normal yaitu antara 6, 5-7.

3.      Cahaya

Pengaruh cahaya tidaklah secara langsung. Cahaya penting untuk fotosintesis dan selama proses fotosintesis dihasilkan energi (ATP) yang sangat diperlukan dalam angkutan aktif. Cahaya juga dapat mempengeruhi membuka dan menutupnya stomata yang berkaitan dengan proses transpirasi, sehingga transpirasi yang meningkat akan meningkatkan pengangkutan mineral melalui aliran masa.

4.      Pengudaraan Tanah

Tanah dengan pengudaraan yang baik akan merangsang terjadinya respirasi sel-sel akar sehingga akan ada cukup energy untuk angkutan aktif.

5.      Interaksi

Ini ada kaitannya dengan pengikatan ion oleh binding site. Apabila binding site untuk suatu ion sangat spesifik, maka penyerapan ion tersebut tidak akan mengalami gangguan. Sebaliknya jika hanya ada satu binding site, maka untuk beberapa macam ion akan terjadi kompetisi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Berdasarkan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa :

  1. Nutrisi yang diperlukan oleh tumbuhan terdiri dari unsur mikronutrien dan makronutrien.
  2. Unsur mineral pada tumbuhan terdiri dari mikro dan makro yang memiliki fungsi masing-masing.
  3. Penyerapan dan pemindahan zat terlarut terbagi atas dua, yaitu penyerapan pasif dan penyerapan aktif.
  4. Penyerapan garam minersl oleh perakaran tumbuhan terbagi menjadi tiga car, yaitu difusi, aliran massa dan akar yang tumbuh.
  5. Faktor yang mempengaruhi pengangkutan mineral terdiri dari :

a.       Suhu

b.      Konsentrsi pH

c.       Cahaya

d.      Pengudaraan tanah

e.       Interaksi

 

B.     Saran

Berdasarkan penulisan makalah ini kita dapat mengetahui berbagai macam nutrisi yang terdapat pada tumbuhan serta faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan nutrisi tersebut. Kami berharap makalah ini dapat berguna kedepannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Reece dan Mitchell. 2003. Biologi Edisi Kelima jilid 2. Erlangga; Jakarta

Campbell, Neil A; Reece dan Mitchell. 2003.Biologi. Jakarta: Erlangga.

Henry, D. Foth. 1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Jilid ke Enam. Jakarta: Erlangga.

Indranada, Henry. 1994. Pengelolaan Kesuburan Tanah. Semarang: Bumi Aksara.

Nugroho, L. Hartanto dan Issisrep Sumardi. 2004. Biologi Dasar. Penebar Swadaya; Jakarta

http://blogspot.com/2011/04/faktor.faktor.yang.memepengaruhi.16.html

 

 

Iklan

Irigasi curah

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.Latar Belakang

Pemanfaatan teknologi alat mesin pertanian(alsintan) khususnya sprinkler untuk tanaman sayuran harus dipertimbangan secara cermat agar mampu berkembang secara mandiri. Pada metoda irigasi curah, air irigasi diberikan dengan cara menyemprotkan air ke udara dan menjatuhkannya di sekitar tanaman seperti hujan. Penyemprotan dibuat dengan mengalirkan air bertekanan melalui orifice kecil atau nozzle. Tekanan biasanya didapatkan dengan pemompaan. Untuk mendapatkan penyebaran air yang seragam diperlukan pemilihan ukuran nozzle, tekanan operasional, spasing sprinkler dan laju infiltrasi tanah yang sesuai. Cara yang paling sederhana yang sering digunakan untuk irigasi sayuran oleh petanikecil adalah dengan menyiram menggunakan emrat (ebor).

Alsintan merupakan rekayasa teknologi yang penggunaannya akan berdampak positif terhadap peningkatan produktifitas dan produksi pertanian, peningkatan mutu dan pengolahan hasil, penyelamatan kehilangan hasil saat panen, penyerapan tenaga kerja sekaligus peningkatan efisiensi usahatani. Pemanfaatan teknologi alat mesin pertanian khususnya penggunaan peralatan sprinkler untuk tanaman sayuran di tingkat petani harus dipertimbangan secara cermat agar mampu berkembang secara mandiri.

 

1.2.Tujuan

  1. Mengetahui fungsi dari irigasi curah.
  2. Mengetahui manfaat dan efisiensi dari irigasi curah.
  3. Mengetahui aplikasi irigasi curah.

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

Sistem irigasi bertekanan atau irigasi curah (sprinkler) adalah salah satu metode irigasi dimana pemberian air dilakukan dengan menyemprotkan air ke udara kemudian jatuh ke permukaan tanah seperti air hujan (Schwab, et.all,1981).

Pemberian air secara curah atau irigasi bertekanan dilakukan dengan pipa-pipa yang dipasang atau ditanam dengan bertekanan tertentu diperkirakan pancaran air dapat membasahi seluruh tanah dan tanaman di lahan. Penggunaan sistem ini untuk pengairan dengan efisiensi tinggi serta diterapkan pada lahan pertanian yang bergelombang dan harus diperhatikan mengenai biaya yang cukup tinggi, keahlian yang tepat dalam merancang penempatan unit di lahan dan kemungkinan kecepatan angin yang berubah-ubah (Kartosapoetradan M.Sutejo , 1994).

Sistem irigasi bertekanan/curah dikerjakan secara mekanis dengan menggunakan kompresor bertekanan untuk menekan air melalui pipa-pipa yang dipasang di ladang atau kebun yang akan diairi . Berdasarkan tipe pencurah maka dapat dibedakan atas : springkler dengan nozel, sprinkler dengan pipa perporasi dan sprinkler dengan pencurah berputar (Hartono, 1983).

Untuk menghitung jumlah pencurah (sprinkler) yang digunakan untuk setiap pompa dan setiap satuan luas berbedabeda tergantung dari debit sprinkler, jangkauan air (jari-jari lingkaran berkas air yang disemprotkan) dan debit pompa , sedangkan jarak maksimun antar pencurah berkisar 3/2 kali jari-jari siraman air dan jarak maksimun antar pipa lateral berkisar 8/5 kali jari-jari siraman air (Najiyati dan Danarti, 1996).

Tujuan dari irigasi curah adalah agar air dapat diberikan secara merata dan efisien pada areal pertanaman dengan jumlah dan kecepatan yang sama atau kurang dari laju infiltrasi air ke dalam tanah (kapasitas infiltrasi). Kebutuhan kapasitas irigasi bertekanan tergantung pada luas areal irigasi, jumlah dan kedalaman air irigasi, efisiensi permukaan air dan lama operasi irigasi. Besarnya kapasitas system irigasi ini dapat dihitung berdasarkan

persamaan :

Q = A x d x 10

 

 

         F x H

 

 

Keterangan :

Q = kapasitas debit sistem(m3.jam-1.hari-1)

A = luas daerah irigasi (ha)

d = kedalaman air (mm)

F = selang waktu irigasi (hari)

H = lama operasi irigasi (jam)

 

Efisiensi pemberian air sistem irigasi bertekanan adalah rasio antara jumlah air tanah yang tersedia dengan jumlah air yang diberikan pada setiap kombinasi jarak nozel selama satu periode irigasi (Israelsen dan Hansen, 1961)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

 

3.1   Kesesuaian irigasi curah

Irigasi curah dapat digunakan untuk hampir semua tanaman kecuali padi dan yute, pada hampir semua jenis tanah. Akan tetapi tidak cocok untuk tanah bertekstur liat halus, dimana laju infiltrasi kurang dari 4 mm per jam dan atau kecepatan angin lebih besar dari 13 km/jam.

3.2. Keuntungan irigasi curah

Beberapa keuntungan irigasi curah antara lain:

a. Efisiensi pemakaian air cukup tinggi

b. Dapat digunakan untuk lahan dengan topografi bergelombang dan kedalaman

tanah (solum) yang dangkal, tanpa diperlukan perataan lahan (land grading).

c. Cocok untuk tanah berpasir di mana laju infiltrasi biasanya cukup tinggi.

d. Aliran permukaan dapat dihindari sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya

erosi.

e. Pemupukan terlarut, herbisida dan fungisida dapat dilakukan bersama-sama

dengan air irigasi.

f. Biaya tenaga kerja untuk operasi biasanya lebih kecil daripada irigasi permukaan

g. Dengan tidak diperlukannya saluran terbuka, maka tidak banyak lahan yang tidak

dapat ditanami

h. Tidak mengganggu operasi alat dan mesin pertanian.

 

3.3. Faktor-faktor pembatas

Berbagai faktor pembatas penggunaan irigasi curah adalah:

a. Kecepatan dan arah angin berpengaruh terhadap pola penyebaran air

b. Air irigasi harus cukup bersih bebas dari pasir dan kotoran lainnya

c. Investasi awal cukup tinggi

d. Diperlukan tenaga penggerak di mana tekanan air berkisar antara 0,5 – 10 kg/cm2.

 

 

3.4. Sistem irigasi curah

Berdasarkan penyusunan alat penyemprot, irigasi curah dapat dibedakan :

a. Sistem berputar (rotating head system). Terdiri dari satu atau dua buah nozzle

miring yang berputar dengan sumbu vertikal akibat adanya gerakan memukul dari

alat pemukul (hammer blade). Sprinkler ini umumnya disambung dengan suatu pipa

peninggi (riser) berdiameter 25 mm yang disambungkan dengan pipa lateral. Alat

pemukul sprinkler bergerak karena adanya gaya impulse dari aliran jet semprotan

air, kemudian berbalik kembali karena adanya regangan pegas. (Gambar 3).

b. Sistem pipa berlubang (perforated pipe system). Terdiri dari pipa berlubang-lubang,

biasanya dirancang untuk tekanan rendah antara 0,5 -2,5 kg/cm2, sehingga sumber

tekanan cukup diperoleh dari tangki air yang ditempatkan pada ketinggian tertentu

(Gambar 4). Semprotan dapat meliput selebar 6 – 15 meter. Cocok untuk tanaman

yang tingginya tidak lebih dari 40 – 60 cm.

 

Gambar 3. Kepala sprinkler berputar dan sistem sprinkler berputar

 

Gambar 4. Pipa perforasi untukirigasi bibit kelapa sawit di PT Makin, Jambi

 

 

3.5 Sistim Sprinkler Konvensional

Sistim sprinkler yang paling awal dirancang adalah sprinkler putar kecil yang beroperasi simultan, mulai populer tahun 1930-an dan masih digunakan sampai sekarang. Sprinkler jenis ini bekerja dengan tekanan rendah sampai medium (2 ~ 4 bar) dan mampu mengairi suatu areal lahan lebar 9 ~ 24 m dan panjang sampai 300 m untuk setiap settingnya (0,3 ~ 0,7 ha). Laju aplikasi bervariasi dari 5 ~ 35 mm/jam.

 

3.6 Sistim Berpindah (portable system)

  1. Sistim berpindah manual

Sistim berpindah yang sangat sederhana adalah memindahkannya dengan tenaga manusia secara manual. Sistim ini terdiri dari sebuah pompa, pipa utama, lateral dan sprinkler putar. Lateral tetap di suatu posisi sampai irigasi selesai. Pompa dihentikan dan lateral dilepaskan dari pipa utama dan dipindahkan ke posisi lateral berikutnya. Bila irigasi satu blok lahan telah selesai, keseluruhan sistim (lateral, pipa utama dan pompa) dipindahkan ke blok lahan lainnya.

  1. Sistim Berpindah dengan Mesin

Laeral-move atau roll-move system. Pada sistem ini, pipa lateral selain untuk mengalirkan air digunakan juga sebagai poros roda berdiameter 1,5 ~ 2,0 m. Roda ditempatkan pada jarak 9 ~ 12 m sehingga lateral dapat mudah didorong dari satu setting irigasi ke setting lainnya dengan menggunakan tenaga gerak motor bakar (internal combustion engine).

 

 

Pada waktu irigasi, lateral tetap pada satu lokasi sampai sejumlah air irigasi selesai diaplikasikan. Pompa dihentikan dan pipa lateral dilepas dari pipa utama, airnya dibuang, kemudian posisi lateral dipindahkan dengan tenaga penggerak. Lateral disambung kembali dengan pipa utama di posisi berikutnya.

Sistim ini cocok digunakan di lahan datar, luas, berbentuk segi empat dengan tanaman rendah dalam barisan. Lateral dipasang melintang barisan tanaman sehingga roda penggerak ditempatkan di antara baris tanaman.

 

3.7 Komponen irigasi curah

Umumnya komponen irigasi curah terdiri dari: (a) pompa dengan tenaga penggerak

sebagai sumber tekanan, (b) pipa utama, (c) pipa lateral, (d) pipa peninggi (riser), dan

(e) kepala sprinkler (sprinkler head).

 

Gambar 18 Komponen sistem irigasi curah dengan tenaga motor bakar

  1. 1.      Tenaga penggerak

Sumber tenaga penggerak pompa dapat berupa motor listrik atau motor bakar (internal combustion engine).

  1. 2.      Pipa utama

Pipa utama (main line) adalah pipa yang mengalirkan air dari pompa ke pipa lateral. Pipa utama dapat dibuat permanen di atas atau di bawah permukaan tanah, dapat pula berpindah (portable) dari satu lahan ke lahan yang lain. Pipa beton tidak cocok untuk tekanan tinggi. Untuk pipa utama yang berpindah, pipa biasanya terbuat dari almunium yang ringan dan dilengkapi dengan quick coupling (Gambar 19). Sedangkan untuk pipa utama yang ditanam, umumnya dipasang pada kedalaman 0,75 m di bawah permukaan tanah. Pipa utama berdiameter antara 75 – 200 mm.

 

      

Gambar 19. Pipa almunium dengan quick coupling

  1. 3.      Pipa lateral

Pipa lateral adalah pipa yang mengalirkan air dari pipa utama ke sprinkler. Pipa utama biasanya terbuat dari baja, beton, asbestos cement, PVC atau pipa fleksibel. Pipa lateral ini berdiameter lebih kecil dari pipa utama, umumnya lateral berdiameter 50 – 125 mm, dapat bersifat permanen atau berpindah. Pipa lateral biasanya tersedia di pasaran dengan ukuran panjang 5, 6 atau 12 meter setiap potongnya. Setiap potongan pipa dilengkapi dengan quick coupling untuk mempermudah dan mempercepat proses menyambung dan melepas pipa (Gambar 20) .

 

Gambar 20. (a) Pipa fleksibel, (b) Pipa kaku berpindah dengan sambungan pipa cepat

(quick coupler), (c) pipa sambungan permanen.

4        Kepala sprinkler (sprinkler head)

Terdapat dua tipe kepala sprinkler untuk mendapatkan semprotan yang baik yaitu:

a. Kepala sprinkler berputar (Rotating head sprinkler). Kepala sprinkler berputar

mempunyai satu atau dua nozzle dengan berbagai ukuran tergantung pada debit

dan diameter lingkaran basah yang diinginkan (Gambar 21).

b. Pipa dengan lubang-lubang sepanjang atas dan sampingnya (sprayline) (Gambar 22)

 

Gambar 21. Kepala sprinkler berputar

 

Gambar 22. Sprayline

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PUNUTUP

 

4.1. Kesimpulan

  1. Keuntungan irigasi sprinkler antara lain dapat digunakan pada areal yang tidak rata, hasil cukup merata dan kurang menimbulkan erosi, dapat digunakan pada tanah yang banyak mengandung pasir tanpa banyak kehilangan air akibat perkolasi yang dalam, jumlah air yang diberikan mudah diatur dan dirasionalisasikan pemakaiannya, dapat diotomatisasi.  Kerugian yang  utama adalah biaya yang tinggi pada awal pemasangannya.
  2. Umumnya komponen irigasi curah terdiri dari pompa dengan tenaga penggerak

sebagai sumber tekanan, pipa utama, pipa lateral,  pipa peninggi (riser), dan

        kepala sprinkler (sprinkler head).

  1. Kelemahan dari irigasi curah diantaranya adalah biaya dalam pembelian alat dan aplikasi yang rumit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Hartono, 1983. Penggunaan Irigasi di Lahan Kering. CV. Yasaguna, Jakarta.

Israelsen, O.W., and V .E. Habsen, 1961. Irrigation Principle and Practices. John Wiley & Sons, Inc. New York.

Kartosapoetra dan M.Sutejo, 1994. Teknologi Pengairan Pertanian Irigasi. Bumi Aksara, Jakarta.

Najiyati dan Danarti, 1996. Petunjuk Mengairi dan Menyiram Tanaman. Penebar Swadaya, Jakarta.

Schwab G.O., R.K. Frevert, K.K Barnet, and T.W Edminster, 1981. Elementary Soil and Water Engineering, John Wiley & Sons.Iowa.

Kurnia, U. 2004. Prospek Pengairan Pertanian Tanaman Semusim Lahan  Kering. J.Litbang Pertanian 23 (4) 2004. p130-138

M.S Djunaedi, dan T.Vadari. 2001 Efisiensi penggunaan air embung dengan irigasi tetes untuk mengantisipasi kekerigan air pada lahan kering di musim kemarau. Prosiding Kongres dan Seminar KNIICID. Bogor 16-17 November 2000.

 

 

 

Kedelai di Kawasan Hutan Jati Bojonegoro

Penguatan dan perluasan areal tanam kedelai terus dipacu. Salah satunya dengan penanaman di areal peremajaan tanaman jati di kawasan hutan jati Bojonegoro. Areal peremajaan hutan jati di KPH Bojonegoro, pada tahun 2012 sangat luas, mencapai ratusan hektar, dan ini merupakan peluang untuk pengembangan kedelai. Observasi yang dilakukan oleh peneliti Badan Litbang Pertanian Dr. Yusmani Prayogo, Kamis (12/04/2012), bersama Staf Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bojonegoro, menunjukkan bahwa peluang pemanfaatan lahan di kawasan hutan jati masih dapat dilakukan hingga empat tahun ke depan. Administratur KPH Bojonegoro mengatakan, kunjungan peneliti diperlukan untuk memberikan pembekalan kepada petani pesanggem sehingga pemahaman dan pengetahuan petani akan kedelai dapat meningkat. Bojonegoro memang merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Jawa Timur. Pengembangan kedelai di kawasan hutan jati, akan menjadi salah satu penyedia benih kedelai untuk pertanaman kedelai di lahan sawah. Jabalsim harus digerakkan, dan dapat dimulai dari kedelai di kawasan hutan jati ini.

Sumber : Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Dukung TMMD, Kementan Siapkan Benih Unggul, Ternak dan Penyuluh Pertanian

Sumber Berita : Sekretariat Jenderal

Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mendukung penuh pelaksanaan kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) sebagai akselerasi pembangunan pertanian dan ketahanan pangan pada wilayah – wilayah tertinggal, miskin dan terisolir. Bentuk kontribusinya meliputi pemberian bibit/ benih tanaman dan ternak, brosur/leaflet terkait pembangunan pertanian serta kegiatan penyuluhan pertanian di wilayah lokasi TMMD.
“Pada tahun 2012 ini, bantuan/bibit tersebut akan disebar pada 65 titik lokasi TMMD,” kata Menteri Pertanian, Dr. Ir. Suswono, MMA pada jumpa pers usai membuka acara Rapat Koordinasi (Rakornis) TMMD di Gedung Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (18/4/2012)
Menurut Mentan, TMMD merupakan salah satu program TNI yang positif dan sangat diperlukan oleh masyarakat dalam mempercepat pembangunan di daerah, terutama di daerah yang sangat minim sentuhan program pemerintah. “Saya harap, program TMMD ini akan membuka akses masuknya program pemerintah lainnya, termasuk program pembangunan pertanian ke lokasi yang mungkin sangat sulit dijangkau,” jelasnya
Lebih lanjut dikatakan Mentan, partisipasi Kementerian Pertanian terhadap kegiatan TMMD telah dimulai sejak tahun 1980-an dan terus berlanjut sampai sekarang. “bagi Kementerian Pertanian, kegiatan TMMD tidak saja dilaksanakan untuk sekadar partisipasi terhadap kegiatan yang dikoordinasikan TNI dalam pembangunan pedesaan, tetapi juga sebagai media untuk mengakselerasi pembangunan pertanian dan ketahanan pangan pada wilayah-wilayah tertinggal, miskin dan terisolasi,” jelasnya.
Terkait dengan jenis bantuan bibit oleh Kementan terhadap program TMMD, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Udhoro Kasih Anggoro mengatakan, kerja sama TNI dengan Kementan secara teknis sudah dilakukan di Kodam VII/Wirabuana. Di lokasi tersebut, tanaman padi dikawal TNI. Pada tahun lalu juga dilaksanakan di Sulawesi Selatan, setiap Kodam mengawal 25 ha lahan tanaman padi. Tahun ini rencananya diperluas menjadi 100 ha di setiap Kodam.
Di Sumatera Selatan, pemerintah juga sudah bekerja sama dengan Kodam Sriwijaya untuk pengadaan gabah dan beras Bulog. Dari target pengadaan Divre Bulog sebanyak 170 ribu ton, bisa tercapai 60 ribu ton. “Nantinya 65 titik yang pemerintah bagikan benih merupakan stimulus bagi petani. Jadi bantuan benih tersebut menjadi contoh di lapangan,” katanya.
Sementara itu Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo mengatakan, kegiatan TMMD ini akan dilaksanakan selama 21 hari yakni dari 23 Mei hingga 12 Juni 2012. “Kegiatan ini dilakukan di 61 kabupaten/kota, di 70 kecamatan dan 102 desa di seluruh Indonesia dengan melibatkan 61 SSK (Satuan Setingkat Kompi) dengan 61 sasaran TMMD yang tersebar di 13 Kodam,” jelasnya.
Menurut Kasad, kegiatan fisik pada TMMD ke 88 kali ini adalah pembangunan rumah penduduk sebanyak 158 unit, pembangunan jalan sepanjang 177.350 meter, pembangunan jembatan 80 unit, pembangunan irigasi sebanyak 13 unit, serta rehabilitasi sarana dan prasarana yang rusak, terutama daerah bencana. Sementara untuk kerjasama dengan Kementerian Pertanian, berupa pengawalan pertanaman padi. “Dengan pengalaman yang telah kami lakukan selama ini, kegiatan tahun ini akan dilaksanakan terutama di daerah perbatasan,”jelasnya.
Sumber: Biro Umum dan Humas

Pemerintah Optimis Padi Hibrida Mampu Tingkatkan Produksi Pangan Sumber Berita : Sekretariat Jenderal

Sukamandi – Pemerintah optimis bahwa pengembangan padi hibrida dapat menjadi salah satu solusi dalam upaya peningkatan produksi pangan. Hal ini dikatakan Menteri Pertanian, Dr. Ir. Suswono, MMA saat melakukan panen padi hibrida varietas SL – 8 SHS di Sukamandi, Subang, Jawa Barat pada rabu (3/4/2012)
Menurut Mentan, produktivitas padi hibrida lebih tinggi dari rerata produktivitas nasional tahun lalu yang hanya mencapai 5,1 ton per hektar.”Varietas padi hibrida dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produksi. Meskipun saat ini benih padi hibrida masih diimpor, namun ke depan akan dikembangkan untuk menghasilkan benih hibrida bagi petani,” katanya.
Lebih lanjut dikatakan Mentan, pada tahun 2012, pemerintah berencana untuk melakukan kegiatan pengembangan Dem Area atau area percontohan pengembangan padi hibrida seluas 200 hektare. Kegiatan tersebut untuk mendukung pencapaian surplus 10 juta ton beras pada tahun 2012.
“Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengembangan padi hibrida baik yang dibiayai oleh pemerintah maupun swadaya petani. Untuk pengembangan Dem Area pada lahan seluas 200 ribu hektar tersebut memerlukan benih sekitar 3000 ton,”jelas Mentan..
Berdasarkan data tahun 2011, luas tanam padi hibrida di Indonesia baru mencapai 494.368 hektar atau sekitar 3,94 persen dari total luas tanam padi. “Padahal Lembaga Riset Padi Internasional (IRRI) dan Organisasi Pangan Dunia (FAO) telah merekomendasikan pengembangan padi hibrida ke negara Asia termasuk Indonesia sejak tahun 2000.
Dijelaskan Mentan, belum luasnya pertanaman padi hibrida karena kalangan petani belum tahu keunggulan benih padi tersebut dan bagaimana cara bercocok tanam yang baik serta terbatasnya produksi benih padi hibrida dalam negeri. Untuk itu, Pemerintah telah menyiapkan dana sebesar Rp 150 Miliar pada tahun 2012 untuk pengembangan Dem Area padi hibrida.
Sumber: Biro Umum dan Humas

Hama dan Penyakit pada Tanaman Cabai dan Cara Penanggulangannya

 

Cabe merupakan salah satu tanaman favorit para petani karena keuntungan yang cukup besar dari produk pertanian ini. Namun untuk membudidayakan tanaman cabe bukanlah perkara mudah.
Hama yang sering menyerang tanaman cabe adalah :
a.Ulat tanah atau Agrotis Ipsilon
b.Thrips
c.Ulat grayak atau Spodoptera litura
d.Lalat buah atau Dacus verugenius
e.Aphids hijau /kutu daun
f.Tungau / mite
g.Nematode puru akar.


Ulat Tanah dengan nama latin Agrotis ipsilon, biasa menyerang tanaman cabe yang baru pindah tanam, yaitu dengan cara memotong batang utama tanaman hingga roboh bahkan bisa sampai putus. Untuk tindakan pencegahan dapat dilakukan penyemprotan insektisida Turex WP dengan konsentrasi 0,25 – 0,5 g/liter bergantian dengan insektisida Direct 25ec dengan konsentrasi 0,4 cc/liter atau insentisida Raydok 28ec dengan konsentrasi 0,25-0,5 cc/liter sehari sebelum pindah tanam.

Ulat grayak pada tanaman cabe biasa menyerang daun, buah dan tanaman yang masih kecil. Untuk tindakan pengendalian dianjurkan menyemprot pada sore atau malam hari dengan insektisida biologi TurexWP bergantian dengan insektisida Raydok 28ec atau insektisida Direct 25ec.

Lalat buah gejala awalnya adalah buah berlubang kecil, kulit buah menguning dan kalau dibelah biji cabe berwarna coklat kehitaman dan pada akhirnya buah rontok. Untuk pencegahan dan pengendalian dapat dilakukan dengan membuat perangkap dengan sexferomon atau dengan penyemprotan insektisida Winder 100EC dengan konsentrasi 0,5 sampai 1 cc per liter bergantian dengan insektisida Promectin 18ec dengan konsentrasi 0,25-0,5 cc/liter atau dengan insektisida Cyrotex 75sp dengan konsentrasi 0,3-0,6 g/liter.
Hama Tungau atau mite menyerang tanaman cabe hingga daun berwarna kemerahan, menggulung ke atas, menebal akhirnya rontok. Untuk penengendalian dan pencegahan semprot dengan  akarisida Samite 135EC dengan konsentrasi  0,25 – 0,5 ml / liter air bergantian dengan insektisida Promectin 18ec dengan konsentrasi 0,25-0,5 cc/liter.

Tanaman yang terserang hama thrips, bunga akan mengering dan rontok. Sedangkan apabila menyerang bagian daun pada daun terdapat bercak keperakan dan menggulung. Jika daun terserang aphids, daun akan menggulung kedalam, keriting, menguning dan rontok. Untuk pencegahan dan pengendalian lakukan penyemprotan dengan insektisida Winder 25 WP dengan konsentrasi

100 – 200 gr / 500 liter air / ha atau dengan Winder 100EC 125 – 200 ml / 500 liter air / Ha bergantian dengan insektisida Promectin 18ec dengan konsentrasi 0,25-0,5 cc/liter.

Nematoda merupakan organisme pengganggu tanaman yang menyerang daerah perakaran tanaman cabe. Jika tanaman terserang maka transportasi bahan makanan terhambat dan pertumbuhan tanaman terganggu. Selain itu kerusakan akibat nematode dapat memudahkan bakteri masuk dan mengakibatkan layu bakteri. Pencegahan yang efektif adalah dengan menanam varietas cabe yang tahan terhadap nematode dan melakukan penggiliran tanaman. Dan apabila lahan yang ditanami merupakan daerah endemi, pemberian nematisida dapat diberikan bersamaan dengan pemupukan.

Penyakit yang sering menyerang tanaman cabe diantaranya adalah :
a.Rebah semai
b.Layu Fusarium
c.Layu bakteri
d.Antraknose / patek
e.Busuk Phytophthora
g.Bercak daun Cercospora
h.Penyakit Virus

Penyakit anthracnose buah. Gejala awalnya adalah kulit buah akan tampak mengkilap, selanjutnya akan timbul bercak hitam yang kemudian meluas dan akhirnya membusuk. Untuk pengendaliannya semprot dengan fungisida Kocide 54 WDG dengan konsentrasi 1 sampai 2 g / l air bergantian dengan fungisida Victory 80wp dengan konsentrasi 1 – 2 g / liter air.

Penyakit busuk Phytopthora gejalanya adalah bagian tanaman yang terserang terdapat bercak coklat kehitaman dan lama kelamaan membusuk. Penyakit ini dapat menyerang tanaman cabe pada bagian daun, batang maupun buah. Pengendaliannya adalah dengan menyemprot fungisida Kocide 77 wp dengan dosis 1,5 – 3 kg / Ha bergantian dengan fungisida Victory 80WP konsentarsi 2 sampai 4 gram / liter dicampur dengan fungisida sistemik Starmyl 25 wp dengan dosis 0,8 – 1 g / liter.

Rebah semai ( dumping off ) . Penyakit ini biasanya menyerang tanaman saat dipersemaian. Jamur penyebabnya adalah Phytium sp. Untuk tindakan pencegahan dapat dilakukan perlakuan benih dengan Saromyl 35SD dan menyemprot fungisida sistemik Starmyl 25WP saat dipersemaian dan saat pindah tanam dengan konsentrasi 0,5 sampai 1 gram / liter.

Penyakit layu fusarium dan layu bakteri pada tanaman cabe biasanya mulai menyerang tanaman saat fase generatif. Untuk mencegahnya dianjurkan penyiraman Kocide 77WP pada lubang tanam dengan konsentrasi 5 gram / liter / lima tanaman, mulai saat tanaman menjelang berbunga dengan interval 10 sampai 14 hari.

Penyakit bercak daun cabe disebabkan oleh cendawan Cercospora capsici. Gejalanya berupa bercak bercincin, berwarna putih pada tengahnya dan coklat kehitaman pada tepinya. Pencegahannya dapat dilakukan dengan menyemprot fungisida Kocide 54WDG konsentrasi 1,5 sampai 3 gram / liter bergantian dengan fungisida Victory 80WP konsentrasi 2 sampai 4 gram / liter dengan interval 7 hari.

Penyakit mozaik virus. Saat ini belum ada pestisida yang mampu mengendalikan penyakit mozaik virus ini. Dan sebagai tindakan pencegahan dapat dilakukan pengendalian terhadap hewan pembawa virus tersebut yaitu aphids.

Untuk pencegahan serangan hama penyakit, gunakan benih cabe hibrida yang tahan terhadap serangan hama penyakit dan yang telah diberi perlakuan pestisida. Apabila terjadi serangan atau untuk tujuan pencegahan lakukan aplikasi pestisida sesuai OPT yang menyerang atau sesuai petunjuk petugas penyuluh lapang.


Teknik Budidaya Sayuran secara Hidroponik

 

Istilah hidroponik berasal dari istilah Yunani yaitu hidro yang berarti air dan ponos berarti kerja. Hidroponik adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan cara bercocok tanam tanpa tanah tetapi menggunakan air atau bahan porous lainnya dengan pemberian unsur hara terkendali yang berisi unsur-unsur esensial yang dibutuhkan tanaman. Dilontarkan pertama kali oleh W.A. Setchell dari University of California, sehubungan dengan keberhasilan W.F. Gericke dari university yang sama, dalam pengembangan teknik bercocok tanam dengan air sebagai medium tanam.

Berdasarkan media tumbuh yang digunakan, hidroponik dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu :

Kultur Air
Teknik ini telah lama dikenal, yaitu sejak pertengahan abad ke-15 oleh bangsa Aztec. Dalam metode ini tanaman ditumbuhkan pada media tertentu yang di bagian dasar terdapat larutan yang mengandung hara makro dan mikro, sehingga ujung akar tanaman akan menyentuh larutan yang mengandung nutrisi tersebut.

Kultur Agregat
Media tanam berupa kerikil, pasir, arang sekam padi (kuntan), dan lain-lain yang harus disterilkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Pemberian hara dengan cara mengairi media tanam atau dengan cara menyiapkan larutan hara dalam tangki atau drum, lalu dialirkan ke tanaman melalui selang plastik.

Nutrient Film Technique
Pada cara ini tanaman dipelihara dalam selokan panjang yang sempit, terbuat dari lempengan logam tipis tahan karat. Di dalam saluran tersebut dialiri air yang mengandung larutan hara. Maka di sekitar akar akan terbentuk film (lapisan tipis) sebagai makanan tanaman tersebut.

Faktor-faktor Penting dalam Budidaya Hidroponik

Unsur Hara

Pemberian larutan hara yang teratur sangatlah penting pada hidroponik, karena media hanya berfungsi sebagai penopang tanaman dan sarana meneruskan larutan atau air yang berlebihan.

Hara tersedia bagi tanaman pada pH 5.5 – 7.5 tetapi yang terbaik adalah 6.5, karena pada kondisi ini unsur hara dalam keadaan tersedia bagi tanaman. Unsur hara makro dibutuhkan dalam jumlah besar dan konsentrasinya dalam larutan relatif tinggi. Termasuk unsur hara makro adalah N, P, K, Ca, Mg, dan S. Unsur hara mikro hanya diperlukan dalam konsentrasi yang rendah, yang meliputi unsur Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo, dan Cl. Kebutuhan tanaman akan unsur hara berbeda-beda menurut tingkat pertumbuhannya dan jenis tanaman (Jones, 1991).

Larutan hara dibuat dengan cara melarutkan garam-garam pupuk dalam air. Berbagai garam jenis pupuk dapat digunakan untuk larutan hara, pemilihannya biasanya atas harga dan kelarutan garam pupuk tersebut.

Media Tanam Hidroponik

Jenis media tanam yang digunakan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Media yang baik membuat unsur hara tetap tersedia, kelembaban terjamin dan drainase baik. Media yang digunakan harus dapat menyediakan air, zat hara dan oksigen serta tidak mengandung zat yang beracun bagi tanaman.

Bahan-bahan yang biasa digunakan sebagai media tanam dalam hidroponik antara lain pasir, kerikil, pecahan batu bata, arang sekam, spons, dan sebagainya. Bahan yang digunakan sebagai media tumbuh akan mempengaruhi sifat lingkungan media. Tingkat suhu, aerasi dan kelembaban media akan berlainan antara media yang satu dengan media yang lain, sesuai dengan bahan yang digunakan sebagai media.

Arang sekam (kuntan) adalah sekam bakar yang berwarna hitam yang dihasilkan dari pembakaran yang tidak sempurna, dan telah banyak digunakan sabagai media tanam secara komersial pada sistem hidroponik.
Komposisi arang sekam paling banyak ditempati oleh SiO2 yaitu 52% dan C sebanyak 31%. Komponen lainnya adalah Fe2O3, K2O, MgO, CaO, MnO, dan Cu dalam jumlah relatif kecil serta bahan organik. Karakteristik lain adalah sangat ringan, kasar sehingga sirkulasi udara tinggi karena banyak pori, kapasitas menahan air yang tinggi, warnanya yang hitam dapat mengabsorbsi sinar matahari secara efektif, pH tinggi (8.5 – 9.0), serta dapat menghilangkan pengaruh penyakit khususnya bakteri dan gulma.

Oksigen

Keberadaan Oksigen dalam sistem hidroponik sangat penting. Rendahnya oksigen menyebabkan permeabilitas membran sel menurun, sehingga dinding sel makin sukar untuk ditembus, Akibatnya tanaman akan kekurangan air. Hal ini dapat menjelaskan mengapa tanaman akan layu pada kondisi tanah yang tergenang.
Tingkat oksigen di dalam pori-pori media mempengaruhi perkembangan rambut akar. Pemberian oksigen ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti: memberikan gelembung-gelembung udara pada larutan (kultur air), penggantian larutan hara yang berulang-ulang, mencuci atau mengabuti akar yang terekspose dalam larutan hara dan memberikan lubang ventilasi pada tempat penanaman untuk kultur agregat.

Air

Kualitas air yang sesuai dengan pertumbuhan tanaman secara hidroponik mempunyai tingkat salinitas yang tidak melebihi 2500 ppm, atau mempunyai nilai EC tidak lebih dari 6,0 mmhos/cm serta tidak mengandung logam-logam berat dalam jumlah besar karena dapat meracuni tanaman.

Keuntungan dan Kendala Hidroponik

Beberapa kelebihan bertanam secara hidroponik adalah produksi tanaman persatuan luas lebih banyak, tanaman tumbuh lebih cepat, pemakaian pupuk lebih hemat, pemakaian air lebih efisien, tenaga kerja yng diperlukan lebih sedikit, lingkungan kerja lebih bersih, kontrol air, hara dan pH lebih teliti, masalah hama dan penyakit tanaman dapat dikurangi serta dapat menanam tanaman di lokasi yang tidak mungkin/sulit ditanami seperti di lingkungan tanah yang miskin hara dan berbatu atau di garasi (dalam ruangan lain) dengan tambahan lampu. Sedangkan kelemahannya adalah ketersediaan dan pemeliharaan perangkat hidroponik agak sulit, memerlukan keterampilan khusus untuk menimbang dan meramu bahan kimia serta investasi awal yang mahal.

teknik budidaya

A. Media

Media hidroponik yang baik memiliki pH yang netral atau antara 5.5 -6.5. Selain itu media harus porous dan dapat mempertahankan kelembaban. Media yang digunakan dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan tahap pertumbuhan tanaman :

Media untuk persemaian atau pembibitan
Untuk persemaian dapat digunkan media berupa pasir halus, arang sekam atau rockwool. Pasir halus sering digunakan karena mudah diperoleh dan harganya murah, namun kurang dapat menahan air dan tidak terdapat nutrisi di dalamnya. Media yang biasa digunakan adalah campuran arang sekam dan serbuk gergaji atau serbuk sabut kelapa.

Media untuk tanaman dewasa
Media untuk tanaman dewasa hampir sama dengan media semai, yaitu pasir agak kasar, arang sekam, rockwool dan lain-lain. Media yang ideal adalah arang sekam. Keuntungannya adalah kebersihan dan sterilitas media lebih terjamin bebas dari kotoran maupun organisme yang dapat mengganggu seperti cacing, kutu dan sebagainya yang dapt hidup dalam pasir. Media arang sekam bersifat lebih ringan namun lebih mudah hancur, penggunaannya hanya dapat untuk dua kali pemakaian. Arang sekam dapat dibeli di toko-toko pertanian atau membuat sendiri.

B. Benih

Pemilihan benih sangat penting karena produktivitas tanaman teranganutng dari keunggulan benih yang dipilih. Periksa label kemasan benih, yaitu tanggal kadaluarsa, persentase tumbuh dan kemurnian benih. Pemilihan komoditas yang akan ditanam diperhitungkan masak-masak mengenai harga dan pemasarannya. Contoh sayuran eksklusif yang mempunyai nilai jual di atas rat-rata adalah tomat Recento, ketimun Jepang, Melon, parika, selada, kailan, melon dan lain-lain.

C. Peralatan Budidaya Hidroponik

Peralatan yang diperlukan adalah :

Wadah semai, bisa menggunakan pot plastik, polybag kecil, bak plastik, nampan semai, atau kotak kayu.

Wadah tanaman dewasa, umumnya digunakan polybag berukuran 30-40 cm dengan lobang secukupnya untuk mengalirkan kelebihan air saat penyiraman.

Kertas tissu/koran basah untuk menjaga kelembaban

Ayakan pasir untuk mengayak media semai

Handsprayer untuk penyiraman

Centong pengaduk media

Pinset untuk mengambil bibit dari wadah semai

Polybag ukuran 5 kg untuk penanaman transplant

Benang rami (seperti yang sering digunakan tukang bangunan) untuk mengikat tanaman

Ember penyiram

D. Pelaksanaan

Persiapan media semai
Sebelum melakukan persemaian, sempuran media semai diaduk dahulu secara merata.

Persemaian tanaman

Persemaian benih besar

Untuk benih yang berukuran besar seperti benih melon dan ketimun, sebaiknya dilakukan perendaman di dala air hangat kuku selama 2-3 jam dan langsung ditanamkan dalam wadah semai yang berisi media dan telah disiram dengan air. Benih diletakkan dengan pinset secara horisontal 4-5 mm dibawah permukaan media.

Transplanting bibit dari wadah semai ke wadah yang lebih besar dapat dilakukan ketika tinggi bibit sekitar 12-15 cm (28-30 hari setelah semai).

Persemaian benih kecil

Untuk benih berukuran kecil seperti tomat, cabai, terong dan sebagainya cara persemaiannya berbeda dengan benih besar. Pertama siapkan wadah semai dengan media setebal 5-7 cm. Di tempat terpisah tuangkan benih yang dicampurkan dengan pasir kering steril secukupnya dan diaduk merata. Benih yang telah tercampur dengan pasir ditebarkan di atas permukaan media semai secara merata, kemudian ditutup dengan media semai tipis-tipis (3-5 mm). Setelah itu permukaan wadah semai ditutup dengan kertas tisu yang telah dibasahi dengan handsprayer kemudian simpan di tempat gelap dan aman.Wadah semai sebaiknya dikenakan sinar matahari tip pagi selama 1-2 jam agar perkecambahan tumbuh dengan baik dan sehat. Setelah benih mulai berkecambah, kertas tisu dibuang.

Setelah bibit mencapai tinggi 2-3 cm dipindahkan ke dalam pot/polybag pembibitan.

Perlakuan semai
Bibit kecil yang telah berkecambah di dalam wadah semai perlu disirami dengan air biasa. Penyiraman jangan berlebih, karena dapat menyebabkan serangan penyakit busuk.

Pembibitan
Setalah bibit berumur 15-17 hari (bibit yang berasal dari benih kecil) perlu dipindahkan dari wadah semai ke pot/polybag pembibitan agar dapat tumbuh dengan baik. Caranya adalah dengan mencabut kecambah di wadah semai (umur 3-4 minggu setelah semai) secara hati-hati dengan tangan agar akar tidak rusak kemudian tanam pada lubang tanam yang telah dibuat pada pot/polybag pembibitan.

Transplanting/pindah tanam

Sebelum dilakukan pindah tanam, perlu dilakukan persiapan media tanam, yaitu dengan mengisikan media tanam ke polybag. Sebaiknya pengisian dilakukan di dekat lokasi penanaman di dalam green house agar sterilitas media tetap terjaga.

Setelah wadah tanam siap dan dibuatkan lubang tanam, maka transplanting siap dilakukan. Transplanting dilakukan dengan membalikkan pot pembibitan secara perlahan-lahan dan menahan permukaannya dengan jemari tangan (bibit dijepit diantara jari telunjuk dan jari tengah). Jika pada pembibitan digunakan polybag, maka cara transplanting bisa dilakukan dengan memotong/menggunting dasar polybag secara horisontal.

Penyiraman
Penyiraman dilakukan secara kontinu, dengan indikator apabila media tumbuh dipegang dengan tangan terasa kering. Meida tanam hidroponik bersifat kering sehingga penyiraman tanaman jangan sampai terlambat. Jenis dan cara penyiraman adalah sebagai berikut:

Penyiraman manual
Penyiraman dilakukan dengan handsprayer, gembor/emprat atau gayung. Cara penyiramannya adalah sebagai berikut :

Pada masa persemaian
Cara penyiraman untuk benih berukuran kecil cukup dengan handsprayer 4-5 kali sehari untuk menjaga kelembaban media. Untuk benih berukuran besar digunakan gembor/emprat berlubang halus atau tree sprayer.

Pada masa pembibitan
Penyiraman dilakukan dengan gembor dilakukan sebanyak 5-6 kali sehari dan ditambahkan larutan encer hara.

Pada masa pertumbuhan dan produksi
Penyiraman dilakukan dengan memeberikan 1.5-2.5 l larutan encer hara setiap harinya.

Penyiraman otomatis
Penyiraman dapat dilakukan dengan Sprinkle Irrigation System dan Drip Irrigation System, yaitu sistem penyiraman semprot dan tetes . Sumber tenaga berasal dari pompa.

Perawatan Tanaman. Perawatan tanaman yang perlu dilakukan antara lain adalah :

Pemangkasan
Pemangkasan dilakukan untuk membuang cabang yang tidak dikehendaki, tunas air, atau cabang yang terkena serangan penyakit. Pemangkasan dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Misal pada tomat recento hanya dipelihara satu batang utama untuk produksi.

Pengikatan
Tanaman yang telah berada di wadah tanam selama 7 hari memerlukan penopang agar dapat berdiri tegak sehingga tanaman dapat tumbuh rapi dan teratur. Penopang tersebut diberikan dengan cara mengikat tanaman dengan tali (benang rami).

Penjarangan bunga (pada sayuran buah)
Penjarangan bunga perlu dilakukan agar pertumbuhan buah sama besar. Namun hasil penelitian penjarangan bunga pada ketimun Gherkin tidak menunjukkan hasil yang berbeda dengan perlakuan tanpa penjarangan bunga.

Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian dapat dilakukan baik secara manual maupun dengan pestisida.

Panen dan Pasca panen

Pemanenan

Dalam pemanenan perlu diperhatikan cara pengambilan buah/ hasil panen agar diperoleh mutu yang baik, misalnya dengan menggunakan alat bantu pisau atau gunting panen. Cara panen yang benar dan hati-hati akan mencegah kerusakan tanaman yang dapat mengganggu produksi berikutnya.

Kriteria panen masing-masing jenis sayuran berlainan satu sama lainnya dan tergantung dari pasar. Makin besar buah belum tentu makin mahal/laku, malah termasuk kriteria buah afkir sehingga waktu panen yang tepat dan pengawasan pada proses produksi perlu diperhatikan.

Penanganan pasca panen

Pemasaran produk hasil budidaya hidroponik sangat dipengaruhi oleh perlakuan pasca panen. Standar harga penjualan produksi tergantung dari menarik atau tidaknya produk yang dihasilkan, terutama dilihat dari penampilan produk (bentuk, warna, dan ukuran). Perlakuan pasca panen sangat penting karena kualitas produk tidak semata-mata dari hasil produksi saja, melainkan sangat tegantung dan ditentukan oleh penanganan pasca panen, kemasan, sistem penyusunan, metode pengangkutam maupun selektivitas produk. Kerusakan produk dapat dikurangai dengan penanganan pasca panen yang tepat sehingga diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah pada produk yang dijual.

sources : http://ayobertani.wordpress.com/2009/04/17/teknik-budidaya-sayuran-secara-hidroponik/